Rabu, 11 Januari 2012

MENDAMPINGI PASIEN KRITIS


POKOK BAHASAN 8.1 :
I.          MENDAMPINGI PASIEN YANG KRISIS
1.1.  Definisi :
Pasien krisis adalah perubahan dalm proses yang mengindikasikan hasilnya sembuh atau mati, sedangkan dalam bahasa yunani artinya berubah atau berpisah.
Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.
Suatu perawatan intensif adalah perawatan yang menggabungkan teknologi tinggi dengan keahlian khusus dalam bidang perawatan dan kedokteran gawat darurat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kritis. Pasien kritis adalah pasien yang memerlukan pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif.

1.2.  Prioritas pasien yang dikatakan kritis:
1.      Pasien prioritas 1
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis ,tidak stabil,yang memerlukan perawatan inensif ,dengan bantuan alat – alat ventilasi ,monitoring, dan obat – obatan vasoakif kontinyu dan lain – pain.misalnya pasien bedah kardiotorasik,atau pasien shock septik.pertimbangkan juga derajat hipoksemia, hipotensi, dibawah tekanan darah tertentu.
2.      Pasien prioritas 2
Pasien ini memerluakn pelayanan pemantauan canggih dari icu.jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi segera,karenanya pemantauan intensif menggunakan metoda seperti pulmonary arteri cateteter sangat menolong.misalnya pada pasien penyakit jantung,paru,ginjal, yang telah mengalami pembedahan mayor.pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya.
3.      Pasien prioritas 3
Pasien jenis ini sakit kritis dan tidak stabil, dimana status kesehatan sebelumnya,penyakit yang mendasarinya atau penyakit akutnya, baik masing – masing atau kombinasinya,sangat mengurangi kemungkinan sembuh dan atau mendapat manfaat dari terapi icu.
contoh – conoh pasien ini adalah pasien dengan keganasan metastasik disertai penyulit infeksi pericardial tamponade,atau sumbatan jalan napas atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat.pasien – pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat.pasien – pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut,tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi dan resusitasi kardio pulmoner.

1.3.  Tugas dan tanggung jawab perawat dalam penatalaksanaan pasien kritis
1.      Tujuan Menyelamatkan kehidupan
2.      Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan
3.    Monitoring ketat disertai kemampuan menginterprestasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut.
4.    Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan.
5.    Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
6.    Mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan pasien.
1.4.  TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DALAM PENATALAKSANAAN PASIEN KRITIS
1.4.1.      Tujuan :
1.    Menyelamatkan kehidupan
2.    Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitoring ketat disertai kemampuan menginterprestasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut.
3.    Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan.
4.    Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
5.    Mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan pasien.
1.4.2.      Tugas dan tanggung jawab
1.      Mengelola pasien mengacu pada standar keperawatan intensif dengan konsisten
2.      Meghormati sesama sejawat dan tim lainnya.
3.      Megintegrasikan kemampuan ilmiah dan ketrampilan kusus serta diikuti oleh nilai etik dan legal dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.                  Berespon secara terus menerus dengan perubahan lingkungan.
POKOK BAHASAN 9.1 – 9.3 :
1.       MENDAMPINGI KLIEN YANG KEHILANGAN
2.       MENDAMPINGI KLIEN YANG HAMPIR MENINGGAL
3.       MERAWAT JENAZAH


POKOK BAHASAN I
MENDAMPINGI KLIEN YANG KEHILANGAN

I.1.   PENGERTIAN KESEDIHAN
Kesedihan (grief) adalah reaksi normal ketika mengalami kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai. (Davies, 1998). Kehilangan adalah suatu situasi yang aktual maupun potensial yang dapat di alami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan.. Kesedihan yang berkenaan kepada seluruh perasaan yang menyakitkan dihubungkan dengan kehilangan, termasuk perasaan sedih, marah, perasaan bersalah, malu dan kegelisahan (Zeanah, 1989).

I.2.   INTENSITAS DAN LAMANYA KESEDIHAN
Intensitas dan lamanya respon kesedihan tergantung terhadap penyebab kesedihannya, usia, agama dan kepercayaan, perubahan dan dibawa dari kesedihan. Kemampuan mengalami kesedihan dan sistem dukungan yang diterima (Carter, 1990, Sander, 1985).

I.3.   TAHAPAN KESEDIHAN
1.      Menurut Bawbly dan Parks (1970), Davidson (1984)
a.       Syok dan hilang rasa
Syok dan hilang rasa dialami anda ketika mereka mengungkapkan perasaan sangat tidak percaya, panic, tertekan atau marah. Pengalaman ini dapat diinterupsikan oleh letupan emosi. Pengambilan keputusan sulit sulit dilakukan pada saan ini dan fungsi normal menjadi terganggu.
Fase ini mendominasi selama 2 minggu pertama setelah kehilangan. Para anda mengatakan bahwa mereka berada dalam mimpi buruk dan bahwa mereka akan bangun dan segala sesuatunya akan menjadi baik.
b.      Mencari dan merindukan
Dapat diidentifikasikan sebagai perasaan gelisah, marah, bersalah dan mendua (ambiguitas). Dimensi ini merupakan suatu kerinduan akan sesuatu yang dapat terjadi dan merupakan proses pencarian jawaban mengapa kehilangan terjadi.
Fase ini terjadi saat kehilangan terjadi dan memuncak 2 minggu sampai 4 bulan setelah kehilangan. Mereka terpaku pada pikiran apa yang terjadi, apa yang telah mereka lakukan dan belum lakukan sehingga kejadian yang mengerikan itu terjadi.
c.       Disorganisasi
Diidentifikasi saat individu berkabung mulai berbalik, dan menguji apa yang nyata menjadi sadar terhadap realitas kehilangan. Perasaan tertekan, sulit konsentrasi pada pekerjaan dan penyelesaian masalah dan perasaan bahwa ia merasa tidak nyaman. Dengan kondisi fisik dan emosinya muncul.
Fase ini memuncak sekitar 5 sampai sembilan bulan dan secara perlahan menghilang. Banyak anda merasa bahwa mereka tidak akan pernah keluar dari rasa kehilangan, bahwa mereka kehilangan pikiran mereka dan merasa nyeri secara fisik.
d.      Reorganisasi
Terjadi bila individu yang berduka dapat berfungsi dirumah dan ditempat kerja dengan lebih baik disertai peningkatan harga diri dan rasa percaya diri. Individu yang berduka memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan baru dan menempatkan kehilangan tersebut dalam perspektif.
Reorganisasi mulai memuncak setelah setahun pertama yakni saat anda mulai melanjutkan hidupnya. Keluarga mengataka bahwa mereka tidak akan pernah melupakan yang telah meninggal tetapi mereka akan memulai kembali kehidupan mereka.

2.      Engel”s Theory
Menurut Engel proses berduka (kehilangan) mempunyai beberapa fase:
a.       Fase I (shock dan tidak percaya)
Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas atau pergi tanpa tujuan. Mencoba untuk membutakan perasaan, mungkin karena orang tersebut tidak menyadari implikasi dari kehilangan. Biasanya seseorang bisa menerima secara intelektual tetapi menolak secara emosional. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaphoresis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.
b.      Fase II (Berkembangnya kesadaran)
Seseorang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi. Menyalahkan diri sediri dan menangis adalah cara yang tipikal sebagai individu yang terikat dengan kehilangan.

c.       Fase III (Restitusi/resolving the loss)
Berusaha mencoba untuk sepakat atau berdamai dengan perasaan yang hampa/kosong, karena kehilangan. Masih tetap tidak bisa menerima perhatianyang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang
d.      Fase IV
Menciptakan kesan orang meninggal yang hampir tidak memiliki harapan dimasa yang akan dating. Menekan seluruh perasaan yang negatif.
e.       Fase V
Kehilangan yang tidak dapat dihindari harus mulai disadari. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah bisa menerima kondisinya.

3.      Teori Kubler-Ross
a.       Pengingkaran (denial)
Tahapan kesedihan ini dapat berakhir beberapa detik, menit atai beberapa hari dan muncul sebagai bentuk pertahanan diri. Seseorang bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan mungkin menolak untuk percaya bahwa sebuah kehilangan benar-benar terjadi.
Implikasi asuhan yang harus diberikan adalah dengan memberikan support secara verbal, berikan waktu kepada mereka untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
b.      Tahap marah (anger)
Tahap reaksi marah membawanya pada pertanyaan ’Why me’ dan ini adalah tahap dimana biasanya perasaan-perasaan emosi bebas diekspresikan. Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Individu akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung. Misal dalam kasus lahir mati dan kematian neonatal ayah si bayi biasanya terlebih dahulu langsung marah kepada dokter, tuhan bahkan kepada istrinya. Si ibu biasanya meresponnya dengan menangis. Pada kenyataannya walaupun dia tidak melakukan dengan hal yang serupa tapi si ibu masih tetap menyangkal kematian bayinya dan berduka cita. Tangisannya mengisyaratkan sebagai ’tangisan panggilan’ (Bowly, 1980) menunjukkan kesungguhannya menginginkan bayinya kembali.
Asuhan yang diberikan dengan membantu untuk mengerti bahwa marah adalah sesuatu respon normal terhadap perasaan kehilangan, hindari menarik diri dan membalas dengan marah dan izinkan klien mengekspresikan kemarahannya sepuas mungkin dibawah pengawasan agar tidak membahayakan dirinya maupun orang lain.
c.       Tahap penawaran (bargaining)
Tahap ini mungkin merupakan fase yang pendek dan tidak diekspresikan secara verbal. Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan. Ibu yang bersedih akan ’berunding’ dengan Tuhan berjanji bahwa ia akan mendedikasikan bayinya hanya kepada-Nya dengan harapan Tuhan akan mengembalikan anaknya.
Dengarkan dengan penuh perhatian pada apa yang pasangan sampaikan dan mendorong pasangan untuk berbicara karena dengan melakukan hal tersebut akan membantu mengurangi rasa bersalah dan perasaan takut yang mereka rasakan.

d.      Tahap depresi (depression)
Tahap depresi dapat menyusul sebagai bentuk kegagalan dalam tahapan ’berunding’, tahapan kemarahan dan bahkan dapat kembali pada periode penolakan. Seseorang sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputus asaannya, rasa tidak berharga bahkan bisa muncul keinginan untuk bunuh diri. Misal pada wanita yang mengalami keguguran, lahir mati, dan kematian neonatal mengakibatkan timbulnya perasaan kehilangan statusnya, rendah diri, tidak kuat dan perasaan bersalah atas kegagalannya sebagai istri yang baik.
Pada tahapan ini biarkan pasangan mengekspresikan kesedihannya dan dalam hal ini komunikasi non verbal dengan duduk yang tenang disampingnya, memberikan suasana yang tenang tanpa mengharapkan adanya suatu percakapan yang berarti bahkan sentuhan. Berikan penertian pada keluarga bahwa sangat penting pasangan berada dalam kesendirian untuk sementara waktu.
e.       Tahap penerimaan (Acceptance)
Pada tahap ini anda yang kehilangan mulai dapat menerima kenyataan, kasih sayangnya pada individu yang hilang mulai luntur dan emosinya berangsur-angsur mulai berkurang pada anak yang hilang, kekuatan untuk menikmati hidup kembali dan sedang menerima ucapan duka cita orang lain untuk membantu memulihkan perasaan kehilangan membutuhkan kerja keras untuk melewatinya untuk dicapai dengan baik pengaruh psikologis yang positif.
Dalam tahap ini, dukung dan bantu pasangan untuk berpartisipasi aktif dalam program pemulihan.

I.4.   TIPE KESEDIHAN
Tipe kesedihan menurut nanda :
1.      Berduka Antisipasi
Suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, obyek/ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan (tipe ini masih dalam batas normal)
2.       Berduka disfungsional
Suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya di besar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, obyek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang menjurus ketipikal, abnormal.
Kesedihan adalan respon individu saat kehilangan (Corr, Nabe, and Corr, 1996). Kesedihan merupakan manivestasi di bawah ini :
1.      Perasaan
adalah sedih, marah, perasaan bersalah, mencela diri sendiri, putus asa, kesepian, letih, kehilangan bantuan, syok, kerinduan, mati rasa.
2.      Sensasi fisik
adalah kekosongan pada usus, sesak pada dada/susah menelan, kehilangan energi, kelelahan, mulut kering, kehilangan koordinasi.

3.      Pilihan kognitif
adalah kehilangan kepercayaan, bingung, terlalu asyik dengan diri sendiri, pencarian paranormal.
4.      Perubahan tingkah laku
adalah susah tidur, kehilangan semangat pada aktivitas yang biasa yang membuat dirinya merasa nyaman, bermimpi tentang kematian, menangis, tidak bias istirahat.
5.      Kesulitan dalam bersosialisasi
adalah masalah dalam menjalin relasi atau fungsi social.
6.      Pencarian spiritual
adalah mencari sensasi dari arti, marahpada Tuhan
(Worden, 1991, as quoted in Corr, Nahe and Corr, 1996)

I.5.   JENIS-JENIS KEHILANGAN
1.      Kehilangan obyek eksterna
Kehilangan obyek/kehilangan milik sendiri/bersama-sama misalnya kecurian (perhiasan, uang, perabot rumah) atau kehancuran akibat bencana alam.
2.      Kehilangan lingkungan yang dikenal
Bisa diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat di kenal termasuk dari latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara permanen, misalnya berpindah rumah, dirawat di rumah sakit atau berpindah pekerjaan.

3.      Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti
Kehilangan yang sangat bermakna/orang yang sangat berarti adalah salah satu kehilangan yang sangat membuat stress, misalnya pekerjaan, kepergian anggota keluarga atau teman dekat, orang yang dipercaya atau binatang peliharaan, perceraian.
4.      Kehilangan suatu aspek diri
Kehilangan diri atau anggapan mental seseorang, misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik
5.      Kehilangan hidup
Dimana seseorang mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya sampai pada kematian yang sesungguhnya, misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat atau diri sendiri atau orang yang hidup sendirian dan sudah menderita penyakit terminal sekian lama dan kematian merupakan pembebasan dari penderitaan.

I.6.   TANDA DAN GEJALA BERDUKA
1.      Efek fisik
Kelelahan, kehilangan selera, masalah tidur, lemah, berat badan menurun, sakit kepala, pandangan kabur, susah bernapas, palpitasi dan kenaikan berat badan.
2.      Efek emosi
Mengingkari, bersalah , marah, kebencian, depresi, kesedihan, perasaan gagal, sulit untuk berkonsentrasi, gagal dan menerima kenyataan , iritabilita, perhatian terhadap orang yang meninggal
3.      Efek social
a.       menarik diri dari lingkungan
b.      isolasi (emosi dan fisik) dari istri, keluarga dan teman.

I.7.   TUGAS INDIVIDU YANG BERDUKA
Worden (1991) mengidentifikasi empat tahap tugas individu yang berduka. Wanita dan keluarga yang beradaptasi terhadap kehilangan seseorang yang dikasihi harus memenuhi tugas-tugas berikut
1.      Menerima realita kehilangan
Terjadi bila wanita dan keluarganya datang untuk menghadapi realitas kehilangan seseorang telah meninggal dan hidup mereka berubah. Melihat, memeluk, menyentuh dan mengingat adalah cara yang digunakan individu yang berduka untuk dapat memastikan kematian seseorang. Adalah penting bagi wanita dan keluarganya untuk menceritakan kisah mereka tentang peristiwa dan pengalaman serta perasaan kehilangan sehingga secara kognitif dan emosional mereka menerima bahwa seseorang yang mereka kasihi telah meninggal.
2.      Menerima sakitnya rasa duka
Ini mengandung makna individu yang berduka harus merasakan dan mengungkapkan emosi berduka yang sangat. Anda atau keluarga merasakan sakitnya berduka dengan intensitas yang berbeda-beda, tetapi kematian biasanya dirasakan sebagai pengalaman berduka yang menyakitkan oleh setiap orang.
Masyarakat secara umum cenderung meminimalkan kematian seseorang karena tidak memiliki hubungan sosial yang nyata atau kedekatan dengan orang yang meninggal tersebut.
3.      Menyesuaikan diri dengan lingkungan
Upaya penyesuaian diri dengan tempaan lingkungan setelah menjalani suatu kehilangan berarti belajar mengakomodasi perubahan akibat kehilangan.
Seiring perjalanan waktu individu yang mengalami proses berduka memiliki kesempatan untuk mengubah pandangan mereka tentang bagaimana peristiwa kehilangan tersebut mempengaruhi hidup mereka. Hal ini bukan berarti mereka telah melupakan seseorang yang telah meninggalkannya, tetapi dengan berlalu minggu dan bulan mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan perspektif yang baru. Melanjutkan perasaan yang berbeda dan berbagai cara untuk mengatasi masalah mereka.
4.      Kehidupan atau reorganisasi
Melanjutkan hidup atau reorganisi berarti mencintai dan hidup kembali. Orang yang ditinggalkan mulai lebih dapat menikmati hal-hal yang memberikan kesenangan, dapat memelihara diri sendiri dan orang lain, mengembangkan minat-minat baru dan menetapkan kembali seluruh hubungan merupakan ciri-ciri tugas ini.

I.8.   DAMPAK KEHILANGAN
1.      Pada masa anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk berkembang, kadang-kadang akan timbul regresi serta merasa takut untuk ditinggalkan atau dibiarkan kesepian.
2.      Pada masa remaja, kehilangan dapat terjadi disintegrasi dalam keluarga
3.      Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup, dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan.
I.9.   FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MENYERTAI KEHILANGAN (BERDUKA)
Menurut martocchio faktor – faktor resiko yang menyertai kehilangan (berduka) meliputi :
1.      Status sosial ekonomi yang rendah
2.      Kesehatan yang buruk
3.      Kematian yang tiba-tiba atau sakit yang mendadak
4.      Merasa tidak adanya dukungan sosial yang memadai
5.      Kurangnya dukungan dari kepercayaan keagamaan
6.      Kurangnya dukungan dari keluarga atau seseorang yang tidak dapat menghadapi ekspresi berduka
7.      Kecenderungan yang kuat tentang keteguhan pada seseorang sebelum kematian atau kehidupan setelah mati dari seseorang yang sudah mati.
8.      Reaksi yang kuat tentang distress, kemarahan dan mencela diri sendiri.

I.10.    PROSES KEHILANGAN (SPORKEN DAN MICHELS)
1.      Ketidaktahuan
Tidak adanya kejelasan bagi seorang klien bahwa akhir kehidupannya sudan semakin dekat. Selain itu ketidaktahuan tentang prognosa penyakit dan juga seberapa berat penyakitnya.
2.      Ketidakpastian
Suatu kondisi dimana individu tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang bagaimana masalahnya. Individu akan mencoba mencari-cari alasan supaya masalah tersebut segera berakhir.

3.      Penyangkalan
Sebagai salah satu upaya pertahanan diri, akibat ketidakmampuan seseorang untuk menerima situasi yang harus dihadapinya, seolah-olah sama sekali tidak mengerti.
4.      Perlawanan
Merupakan akibat logis dari fase sebelumnya dan mulai mengembangkan kesadaran bahwa ajal sudah dekat. Wujud fase ini adalah dengan agresi dan biasanya disebut juga fase yang penuh kemarahan dan agresi.
5.      Penyelesaian
Bila individu merasakan ketidakbergunaan penyangkalan dan kemarahan maka ia akan merundingkan penyelesaian dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dengannya.
6.      Depresi
Individu akan mengalami kesedihan yang amt dalam, kesendirian dan ketakutan.
7.      Penerimaan
Tidak setiap individu mampu mencapainya. Respon yang diperlihatkan adalah sikap yang tenang, karena ia sadar bahwa ia akan dapat mengatasi masalahnya.

I.11.         MEMBANTU PASIEN YANG HAMPIR MENINGGAL
Sakaratul maut (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap. Dying dan death merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta merupakan suatu fenomena tersendiri. Dying lebih kearah suatu proses, sedangkan death merupakan akhir dari hidup.

I.12.    DISKRIPSI RENTANG POLA HIDUP SAMPAI MENJELANG KEMATIAN

Menurut Martocchio dan Default mendiskripsikan rentang pola hidup sampai menjelang kematian sebagai berikut :
1.    Pola puncak dan lembah
Pola ini memiliki karakteristik periodik sehat yang tinggi (puncak) dan periode krisis (lemah). Pada kodisi puncak, pasien benar-benar merasakan harapan yang tinggi/besar. Sebaliknya pada periode lemah, klien merasa sebagai kondisi yang menakutkan sampai bisa menimbulkan depresi.
2.    Pola dataran yang turun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya sejumlah tahapan dari kemunduran yang terus bertambah dan tidak terduga, yang terjadi selama/setelah perode kesehatan yang stabil serta berlangsung pada waktu yang tidak bisa dipastikan.

3.    Pola tebing yang menurun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya kondisi penurunan kondisi yang menetap/stabil, yang menggambarkan semakin buruknya kondisi. Kondisi penurunan ini dapat diramalkan dalam waktu yang bisa diperkirakan baik dalam ukuran jam atau hari. Kondisi ini lazim detemui di unit khusus (ICU)
4.    Pola landai yang turun sedikit-sedikit
Karakteristik dari pola ini kehidupan yang mulai surut, perlahan dan hampir tidak teramati sampai akhirnya menghebat menuju kemaut.

I.13.    PERKEMBANGAN PERSEPSI TENTANG KEMATIAN
1.    Bayi - 5 tahun.
Tidak mengerti tentang kematian, keyakinan bahwa mati adalah tidur/pergi yang temporer
2.    5-9 tahun.
Mengerti bahwa titik akhir orang yang mati dapat dihindari
3.    9-12 tahun.
Mengerti bahwa mati adalah akhir dari kehidupan dan tidak dapat dihindari, dapat mengekspresikan ide-ide tentang kematian yang diperoleh dari orang tua/dewasa lainnya.
4.    12-18 tahun.
Mereka takut dengan kematian yang menetap, kadang-kadang memikirkan tentang kematian yang dikaitkan dengan sikap religi.
5.    18-45 tahun.
Memiliki sikap terhadap kematian yang dipengaruhi oleh religi dan keyakinan.

6.    45-65 tahun.
Menerima tentang kematian terhadap dirinya. Kematian merupakan puncak kecemasan.
7.    65 tahun keatas.
Takut kesakitan yang lama. Kematian mengandung beberapa makna : terbebasnya dari rasa sakit dan reuni dengan anggota keluarga yang telah meninggal.

I.14.    PERUBAHAN TUBUH SETELAH KEMATIAN
1.    Rigor mortis (kaku) dapat terjadi sekitar 2-4 jam setelah kematian, karena adanya kekurangan ATP (Adenosin Trypospat) yang tidak dapat disintesa akibat kurangnya glikogen dalam tubuh. Proses rigor mortis dimulai dari organ-organ involuntery, kemudian menjalar pada leher, kepala, tubuh dan bagian ekstremitas, akan berakhir kurang lebih 96 jam setelah kematian.
2.    Algor mortis (dingin), suhu tubuh perlahan-lahan turun 1 derajat celcius setiap jam sampai mencapai suhu ruangan.
3.    Post mortem decompotion, yaitu terjadi livor mortis (biru kehitaman) pada daerah yang tertekan serta melunaknya jaringan yang dapat menimbulkan banyak bakteri. Ini disebabkan karena sistem sirkulasi hilang, darah/sel-sel darah merah telah rusak dan terjadi pelepasan HB.

I.15.    PENDAMPINGAN PASIEN SAKARATUL MAUT
1.    Definisi
Perawatan pasien yang akan meninggal dilakukan dengan cara memberi pelayanan khusus jasmaniah dan rohaniah sebelum pasien meninggal.
2.    Tujuan
a.         Memberi rasa tenang dan puas jasmaniah dan rohaniah pada pasien dan keluarganya
b.         Memberi ketenangan dan kesan yang baik pada pasien disekitarnya.
c.         Untuk mengetahui tanda-tanda pasien yang akan meninggal secara medis bisa dilihat dari keadaan umum, vital sighn dan beberapa tahap-tahap kematian
3.    Persiapan alat
a.         Disediakan tempat tersendiri
b.         Alat – alat pemberian O2
c.         Alat resusitasi
d.        Alat pemeriksaan vital sighn
e.         Pinset
f.          Kassa, air matang, kom/gelas untuk membasahi bibir
g.         Alat tulis
4.    Prosedur
a.         Memberitahu pada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
b.         Mendekatkan alat
c.         Memisahkan pasien dengan pasien yang lain
d.        Mengijinkan keluarga untuk mendampingi, pasien tidak boleh ditinggalkan sendiri
e.         Membersihkan pasien dari keringat
f.          Mengusahakan lingkungan tenang, berbicara dengan suara lembut dan penuh perhatian, serta tidak tertawa-tawa atau bergurau disekitar pasien
g.         Membasahi bibir pasien dengan kassa lembab, bila tampak kering menggunakan pinset
h.         Membantu melayani dalam upacara keagamaan
i.           Mengobservasi tanda-tanda kehidupan (vital sign) terus menerus
j.           Mencuci tangan
k.         Melakukan dokumentasi tindakan

I.16.    PERAWATAN JENAZAH
1.    Definisi
Perawatan pasien setelah meninggal dunia
2.    Tujuan
a.         Membersihkan dan merapikan jenazah
b.         Memberikan penghormatan terakhir kepada sesama insane
c.         Memberi rasa puas kepada sesama insane
d.        Persiapan alat
1.    Celemek
2.    Verban/kassa gulung
3.    Sarung tangan
4.    Pinset
5.    Gunting perbant
6.    Bengkok 1
7.    Baskom 2
8.    Waslap 2
9.    Kantong plastik kecil (tempat perhiasan)
10.                        Kartu identitas pasien
11.                        Kain kafan
12.                        Kapas lipat lembab dalam kom
13.                        Kassa berminyak dalam kom
14.                        Kapas lipat kering dalam kom
15.                        Kapas berminyak (baby oil) dalam kom
16.                        Kapas alkohol dalam kom
17.                        Bengkok lysol 2-3%
18.                        Ember bertutup 1
e.         Prosedur
1.    Memberitahukan pada keluarga pasien
2.    Mempersiapkan peralatan dan dekatkan ke jenazah
3.    Mencuci tangan
4.    Memakai celemek
5.    Memakai hands scoon
6.    Melepas perhiasan dan benda – benda berharga lain diberikan kepada keluarga pasien (dimasukkan dalam kantong plastik kecil)
7.    Melepaskan peralatan invasif (selang, kateter, NGT tube dll)
8.    Membersihkan mata pasien dengan kassa, kemudian ditutup dengan kassa lembab
9.    Membersihkan bagian hidung dengan kassa, dan ditutup dengan kapas berminyak
10.                        Membersihkan bagian telinga dengan kassa, dan ditutup dengan kapas berminyak
11.                        Membersihkan bagian mulut dengan kassa
12.                        Merapikan rambut jenazah dengan sisir
13.                        Mengikat dagu dari bawah dagu sampai ke atas kepala dengan verban gulung
14.                        Menurunkan selimut sampai ke bawah kaki
15.                        Membuka pakaian bagian atas jenasah, taruh dalam ember
16.                        Melipat tangan dan mengikat pada pergelangan tangan dengan verban gulung
17.                        Membuka pakaian bagian bawah, taruh dalam ember
18.                        Membersihkan genetalia dengan kassa kering dan waslap
19.                        Membersihkan bagian anus dengan cara miringkan jenazah ke arah kiri dengan meminta bantuan keluarga
20.                        Memasukkan kassa berminyak ke dalam anus jenasah
21.                        Melepas stick laken dan perlak bersamaan dengan membentangkan kain kafan, lipat stick laken dan taruh dalam ember.
22.                        Mengembalikan ke posisi semula
23.                        Mengikat kaki di bagian lutut jenazah, pergelangan kaki, dan jari–jari jempol dengan menggunakan verban gulung.
24.                        Mengikatkan identitas jenazah pada jempol kaki
25.                        Membuka boven laken bersamaan dengan pemasangan kain kafan
26.                        Jenazah dirapikan dan dipindahkan ke brankart
27.                        Alat – alat tenun dilepas dan dimasukkan ke dalam ember serta melipat kasur
28.                        Merapikan alat
29.                        Melepas hand scoon
30.                        Melepaskan celemek
31.                        Mencuci tangan
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.

Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.

Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.

JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.

JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, California.

Potter, Perry. 2000. Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.

Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

1 komentar:

  1. terima kasih atas artikelnya
    sangat membantu penyelesaian tugasku :)

    BalasHapus